SMP Islam Prestasi Al Mubtadi-ien: Sekolah berbasis Multiple Inteligence dengan khas pesantren di Karangmojo, Trirenggo, Bantul, DIY

Senin, 09 April 2018

Selamat Menempuh USBN 2018: Ujian Kelulusan yang Lebih Manusiawi

Transformasi bentuk ujian telah terjadi hampir setiap ganti mentri pendidikan ganti kebijakan juga. Dahulu sebelum masa Presidennya Jokowi dan Mendikbuddasmen nya pak Anis Baswedan, selama sekolah 3 tahun di jenjang SMP hanya ditentukan 4 hari ujian nasional untuk menentukan layak atau tidaknya seorang siswa lulus dari sekolah. Sungguh suatu hal yang tidak manusiawi, perbandingan waktu belajar dan waktu ujian yang tidak sebanding kemudian hanya menjadikannya ujian yang tidak sehat juga. Jika kita lihat berita-berita setelah adanya Ujian Nasional (UN) kala itu pasti wartawan mencyduq beberapa berita kecurangan dalam ujian seperti kebocoran soal, jual beli kunci jawaban, mencotek antar siswa, hingga guru yang memberitahu murid jawabannya, bahkan tetap ada saja siswa yang di hari-hari sekolahnya aktif dan pandai namun secara nilai UN lebih unggul dari siswa yang kurang serius bersekolah, naasnya lagi siswa yang pandai tadi ada yang sampai tidak lulus sewaktu UN. Hal-hal seperti itu pasti memenuhi kolom-kolom berita setelah ujian kelulusan selesai dilaksanakan. Belum lagi pengadaan soal secara nasional yang memakan banyak energi distribusi maupun finansialnya. Sederhananya kita akan mengadakan ujian kelulusan yang sangat penting dipersiapkan dengan waktu yang lama, biaya yang banyak, dan melibatkan berbagai kalangan tapi yang ujian terlampau menganggap serius sehingga menghalalkan segala cara agar bisa selamat dari ujian terakhir tersebut dan malah kehilangan dirinya sendiri.

Padahal, apa sih sebenarnya hakikatnya ujian tersebut? Dalam Islam ujian digunakan untuk menaikan derajat seseorang menjadi lebih tinggi dari sebelumnya. Bisa jadi ujian yang berbentuk masalah kehidupan maupun ujian di sekolah seperti ini. Setiap ujian pasti bertambah sulit, namun Allah menjamin setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Pada konteks ujian kelulusan ini sebenarnya ujian dilaksanakan agar siswa kelas 9 yang ada di SMP naik derajatnya menjadi kelas 10 di jenjang SMA/ SMK/MA sederajat. Percayalah, setelah ujian ini pasti ada kemudahan-kemudahan yang datang. Allah punya rencana yang keren keren untuk setiap umatnya

Oke, kembali ke pembahasan awal, ujian kelulusan. Mulai tahun 2010 kalau tidak salah proporsi UN sebagai penentu kelulusan sedikit demi sedikit dikurangi dan pada tahun 2015 pak jokowi dan pak anis menegluarkan kebijakan bahwa penentu kelulusan bukan lagi UN yang hanya 4 hari, namun USBN yang mempertimbangkan juga nilai ujian praktek dan penilaian selama 3 tahun di sekolah. Hal ini tentu lebih manusiawi, karena penentu kelulusan tidak hanya terbatas 4 hari dan 4 mapel saja (Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan IPA) karena memang akan sangat dikrucutkan sekali jika begitu. Pemahaman 4 mapel tersebut hanya mencakup 3 dari 9 jenis kecerdasan majemuk Howard Gardner, yakni logis-matematis, lingustik-bahasa, naturalis-kealaman. Selain itu soal yang dibuat pun hanya pilihan ganda dan kebanyakan hanya di level mengingat dan menghafal ditambah sedikit penerapan di kehidupan sehari-hari.
Sekarang saat ujian kelulusan adalah USBN guru akan lebih adil saat mempertimbangkan kelulusan siswa, karena guru dan pihak sekolah lah yang paling tahu perilaku siswanya selama 3 tahun. Ditambah mata pelajaran yang dijadikan pertimbangan kelulusan semakin luas. Jadi, akan lebih memungkinkan untuk lulus dengan jujur tanpa ada tekanan karena ketakutan yang berlebihan


Share:

Entri yang Diunggulkan

Suasana Seperti Inilah Yang Bikin Betah di SMP IP: Gallery Qurban 2018

Hampir setiap sabtu para alumni pasukan prestasi angkatan 6 kembali ke SMP IP hanya untuk sekedar menengok sekolahnya dulu serta curhat terk...

Recent Posts

Sidebar Ads

Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Badge

Google+ Followers

Total Tayangan Halaman

Search This Blog

International

Auto News

Text Widget

About Me

Breaking News

Sample Text

Pages