SMP Islam Prestasi Al Mubtadi-ien: Sekolah berbasis Multiple Inteligence dengan khas pesantren di Karangmojo, Trirenggo, Bantul, DIY

Kamis, 05 Juli 2018

Mari Cerdas Memilih Sekolah: Sekolah Robot vs Sekolahnya Manusia


Beberapa hari lalu saya bertemu dengan rekan seperjuangan ketika masa kuliah dulu. Kami mengobrol seputar sekolah dan pendidikan di Indonesia. Karena saat ini kita tak bisa mengelak bahwa kenakalan remaja makin beragam dan makin serius. Kalau dulu masalah remaja hanya identik dengan kecanduan narkoba, kini kecanduannya jadi banyak macamnya mulai dari kecanduan game online, bokep (video porno), dan media sosial yang justru membuat remaja zaman ini makin malas memikirkan masa depan apalagi PR mereka. Ditambah lagi acara di TV yang hanya berkutat hiburan joged, audisi artis dadakan dan FTV yang juga membuat budaya pacaran jadi lumrah bahkan bagi anak SD jaman ini.
     Jika orangtua di rumah tak sempat memberikan kontrol yang baik, maka satu-satunya harapan adalah sekolah. Tapi sangat disayangkan sekolah di negeri kita saat ini masih cenderung berkiblat pada "tradisi pendidikan" Indonesia yang masih menilai siswa "cerdas" dari nilai UN saja. Masyarakat pun juga masih meng-iya-kan bahwa sekolah yang bagus adalah yang nilai UN-nya paling tinggi.
      Padahal ironisnya saat kami mengobrol dan mencoba mengingat-ingat ke belakang, justru siswa yang dulu ketika di SD, SMP dan SMA nilainya selalu bagus dan ranking tak semuanya memiliki karir dan kehidupan yang cemerlang bersinar. Dan justru mereka yang tidak begitu menonjol saat di bangku sekolah kini banyak yang sukses di bidang yang ditekuni masing-masing. Dan percakapan kami pun diakhiri dengan pertanyaan, "LHA TUJUAN DARI PEMBELAJARAN DAN PENDIDIKAN DI SEKOLAH ITU UNTUK APA..??? APA FUNGSI SEKOLAH SEBENARNYA..??"
Kalo memang fungsi sekolah itu untuk mendidik perilaku dan menanamkan prinsi-prinsip ksatria, kenapa yang terjadi saat ini di masyarakat justru sebaliknya? Anak-anak jaman sekarang cenderung lebih bebas dalam bergaul, etika kurang sopan, dan etos kerja kurang terbentuk. Jika hanya mencetak siswa dengan nilai UN bagus tapi masa depannya tidak jelas (tak ada motivasi dan inspirasi) terus buat apa menghabiskan waktu di sekolah untuk hasil yang tak pasti???
      Nah, jika dikembalikan ke fungsi aslinya, seharusnya sekolah bisa menjadi tempat MENSTIMULUS KREATIVITAS ANAK, MENGINSPIRASI DENGAN CITA-CITA DAN HARAPAN UNTUK MASA DEPAN MEREKA, MENDIDIK DENGAN AKHLAK DAN KEBIASAAN YANG BAIK, MEMBUAT MEREKA MENJADI PRIBADI YANG GEMAR BEKERJA DAN MEMBAKTIKAN DIRI DI MASYARAKAT, NEGARA DAN AGAMANYA SERTA yang tak kalah penting MENDEKATKAN MEREKA DENGAN TUHANNYA.. Karena itu harusnya sekolah juga bisa meng-cover aspek IQ, EQ, AQ dan SQ secara keseluruhan, bukannya hanya mencerdaskan kognitifnya (IQ) saja apalagi membuat siswa bangga dan tergila-gila dengan itu semata tanpa membuka mata terhadap potensi yang sebenarnya mereka miliki.
      Melihat semua ini kita harusnya jeli memilih sekolah untuk anak, adik ataupun saudara kita. Sekolah yang baik tentu saja yang bisa mengajarkan budi pekerti luhur, mengajarkan etos kerja dan gemar membantu (berbakti), menginspirasi masa depan serta yang tak kalah penting mencerdaskan mereka, bukan malah menjadikan mereka robot-robot pengabdi nilai sehingga kehilangan sisi manusiawinya (meminjam istilahnya pak Munif Chatib).
     Sekolahnya robot beranggapan bahwa seluruh siswa mempunyai kemampuan yang sama sehingga dituntut untuk menjadi sama dalam segala hal tanpa melihat keunikan-keunikan siswa. Artinya semua siswa diwajibkan untuk bisa menjadi siswa normal yang pandai semuanya dan berlomba-lomba untuk mencapai nilai paling tinggi. Mungkin tanpa mempedulikan tekanan jiwa, psikologis maupun energi siswa. Sekolah robot beranggapan bahwa nilai yang tinggi adalah segala-galanya, sedangkan pelajaran paling penting adalah pelajaran yang di UN-kan sehingga pelajaran lain dianggap tidak penting, karena tidak berefek ke nilai UN.
    Sekolahnya manusia beranggapan bahwa setiap siswa memiliki kecerdasan serta kemampuan yang unik dan berbeda-beda. Justru disinilah kekuatan sekolahnya manusia, kami memaksimalkan potensi keunikan siswa dengan treatment yang berbeda sesuai dengan kecenderungan kecerdasannya. Bisa jadi anak yang mempunyai kecenderungan cerdas visual spasial atau menggambar dimaksimalkan potensinya tidak hanya pada pelajaran seni rupa namun pada pelajaran lain dengan menggunakan strategi tertentu seperti mencatat dengan mind map atau lainnya. (baca artikel terkait Multiple Intelligences di link berikut). Intinya sekolah tidak hanya melulu terkait nilai, namun juga mengembangkan potensi pribadi siswa yang nantinya akan berguna di masa mendatang. Disertai juga penguatan-penguatan karakter luhur bangsa dan kegiatan-kegiatan berbasis pesantren yang pastinya kelak akan membangun budi pekerti yang mulia. Tanpa adanya budi pekerti yang mulia apalah artinya pintar dan memiliki nilai tinggi?

Baik-baiklah memilih sekolahan, jangan hanya memilih sekolah yang bagus karena masukannya bagus (input siswa NEM tinggi) namun pilihlah sekolah yang memiliki banyak program-program keren yang akan meningkatkan potensi dan budi pekerti anak kita...

Untuk informasi lengkap PPDB SMP Islam Prestasi Al Mubtadi-ien bisa dilihat di link berikut
   


Share:

Entri yang Diunggulkan

Serunya Sekolah Sambil Belajar: Field Trip to Afandi Museum and Monjali in 2018

Siapa berani lawan bu ulfa? guru terkiler di SMP IP (katanya) anak-anak ini karya mbah afandi dari awal perjuangan hingga meninggal, ...

Recent Posts

Sidebar Ads

Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Badge

Google+ Followers

Total Tayangan Halaman

Search This Blog

International

Auto News

Text Widget

About Me

Breaking News

Sample Text

Pages